Minggu, 06 Mei 2018

Benteng Pendhem Ambarawa atau Benteng Fort Willem I | jalan jalan senja


Haloo pembaca budiman dan budiwomanku. Selamat datang kembali. Apa kabar kalian? Semoga selalu sehat dan berbahagia. Saya sedang baik-baik saja karena TA nya sudah selesai. Hore. Uda gitu aja.



Oke jalan jalan senja kali ini kita ke ambarawa. Kali ini kami jalan jalan ke Benteng Fort Willem I (satu), lalu dimana Benteng Fort Willem 2? gatau, mungkin karna kamu gada duanya. Ea ea. Jadi benteng ini sekarang lebih dikenal dengan nama Benteng Pendem Ambarawa. "Pendem" dalam Bahasa Jawa berarti ditimbun dalam tanah. Jadi benteng ini tertutup oleh tanah. Benteng ini juga terkenal dengan gaya bangunan Hindia Belanda dan apa itu? Yak! Itu adalah gaya arsitektur hexagon atau bersudut segi enam! Yeay kamu benar, km layak jadi pemain voli. Dari kemegahan bangunan ini, masih tetap ada sisi mistik dan kesan angker yang menempel. Simak cerita kami dibawah.

Tampak depan Benteng Pendem Ambarawa

Jadi kami berangkat pukul 16.00 dari Semarang. Perjalanan kali ini tidak memakan waktu lama karena jalanan Semarang - Ambarawa lumayan lancar. Perjalanan kami tempuh selama 56 menit. Kami sampai disana pukul 16.56 dan penjaga parkirannya ngomong kalau 17.15 dia mau pulang. Oke, 15 minutes is enough for us. Kami melanjutkan ke dalam benteng dengan berjalan kaki. Kami di sambut oleh dua turunan langsung Tyrannosaurus atau T-Rex, yaitu ayam. 
Karena ayam memiliki susunan tulang dan pola hidup yang sama seperti dinosaurus yang saya sebut diatas. Dalam hati saya berguman "darah juang dinosaurus mengalir dalam tubuhmu, hewan liar kecil". Oke lalu kami masuk.

Didalam terdapat beberapa bangunan yang dibedakan. Karna disana tidak ada brosur dan penjelasan sama sekali, maka saya membuat kesimpulan dari yang bersumber dari internet mengenai Benteng Fort Willem I atau Benteng Pendem Ambarawa. Sejarah singkat!



Benteng ini dibangun pada tahun 1834 dan selesai pada tahun 1845. Dari hasil riset dan kecerdasan saya, umumnya benteng dibuat untuk pertahanan dan keamanan maksimal. Misal, adanya parit dan tembok tinggi sebagai mekanisme pertahanan, lalu ada lubang pada tembok bagian atas dari tembok pertahanan sebagai tempat untuk moncong meriam. Namun, semua mekanisme pertahanan tersebut belum ditemukan(versi saya) di tiap bangunan, kenapa? Dari sumber yang saya dapatkan, Benteng ini berfungsi sebagai barak senjata dan gudang logistik pada tahun VOC berjaya.

 Tempatnya yang di tengah2 Jawa Tengah memudahkan akses untuk menyimpan semua barang. Ditambah lagi akses rel kereta api yaitu Stasiun Kereta Api Ambarawa yang juga dekat denga  posisi benteng ini. Benteng ini juga pernah digunakan sebagai kamp tentara Jepang pada tahun 1942-1945. Dan untuk sekaran ini, digunakan untuk Lapas kelas II A dan barak Militer Indonesia.
Oiya, fasilitas wisata ini juga ada parkiran, toilet, dan masjid juga di dalamnya lho.
Dari bentuknya yang sudah tua masih ada saja kesan horor dan angker di tempat ini. Dan yang lebih horor lagi adalah,
kami nggk bawa kopi dan kompor. Jadi gabisa bikin kopi :(. Kami cuma bawa Yuppi sama jus jeruk. Huhu. 

Kalian nunggu horor apa?
Hantu?
Nggak ada, kan kesana nya senja. Sore sore gitu.
Begitulah jalan jalan senja kali ini. Kalian punya cerita yang ingin di bagikan disini? Kalian bisa email kami di jalanjalansenja@gmail.com atau hubungi saya langsung.

Selamat jalan jalan senja, semoga harimu menyenangkan!

Selasa, 27 Maret 2018

Perjalanan tidak berat Menuju Curug Lawe


Haloo pembaca budiman and budiwoman. Terimakasih tetap membaca blog keren saya ini. Padahal saya bisa saja tulis di caption sosmed lain. Tp males ah. Ngomong-ngomong, apa kabar buat semua pembaca, semoga sehat-sehat saja. 



Hari lalu saya sedang ada rencana ke Gunung Merapi (yang kemudian gagal karna ada tur hari senin dari kantor tempat saya freelance) dalam beberapa hari kedepan. Jadilah saya harus pemanasan, meregangkan otot otot kaku yang hanya berdiam diri di kamar. Benar, beberapa bulan terakhir saya sering menghabiskan waktu di kamar. Karena mengerjakan TA yang harus saya selesaikan bulan ini. Tapi ya itu tadi, hingga hari tulisan ini di terbitkan, TA nya masih belum rampung 100%. Setidaknya sudah 92% lah. Tinggal dikit lagi. Ok terima kasih sudah menerima curhatan saya. Skip. Lanjut. Jatuhlah saya pemanasan tracking ke air terjun Benowo Lawe yang terletak di Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. Air terjun ini lebih dikenal CLBK atau Curug Benowo Lawe. Unik ya.



Curug Benowo Lawe ini memiliki dua destinasi, curug Lawe dan Curug Benowo. Satu tempat wisata tapi beda jalur tracking. Yang membedakan hanya posisi, yaitu Curug Lawe yang lebih tinggi dari Curug Benowo. Tp mesikupun Lawe lebih tinggi, Lawe tidak pernah sombong kepada Benowo. Benowo juga tidak pernah iri kepada Lawe. Jadilah seperti Benowo dan Lawe. Hmmm. Oke, lanjut. Dari segi track sebenarnya sama, landai dan sedikit terjal ketika sudah memasuki area air terjun. Namun untuk Lawe, lebih banyak tanjakan dan ada beberapa daerah curam.



Hari itu, saya bersama tim jalan jalan senja menjelajahi Curug Lawe. Penjelajahan ini dibantu oleh ejes pemilik akun @kopi_plengeh dan erinda CEO @puwandaya . Mereka adalah penjelajah alam profesional dengan keahlian masing-masing. ejes dengan kemampuan menggelar tikar di atas batu dan erinda yang jago mengambil angel untuk memotret. Sungguh sangat membantu perjalanan. Jalan jalan itu diawali jam 8 pagi langsung menuju ungaran. Perjalan sekitar 45 menit dari kota kami. Sekitar jam 9 lah kita baru mulai mendaki Curut, Curug ding.




Dari parkiran, kita akan disambut kebun cengkeh. Setelah itu menuruni ngarai. Kita akan berjalan menyusuri aliran air yang dihasilkan dari air terjun tersebut. Di kiri jalan terlihat jurang dengan segala keindahan dan kehidupannya. Mungkin di sana hidup dinosaurus pemakan daging. Mungkin ya. Mungkin. Lalu kita akan melewati jembatan untuk melintas dari ujung tebing ke tebing yang lain. Lupa saya foto. Jadi biarlah. Padahal bagus. Kemudian akan dipertemukan dengan persimpangan menuju Curung Benowo dan Lawe. Kami berbelok ke arah Lawe. Dari persimpangan itu tertulis "600m menuju Curug Lawe". 'ah dekat', gumanku dalam hati. Lalu jalanlah kita dengan terengah engah menuju Curug. Sekitar 40menitan berjalan kita akhirnya sampai di Curug. Setelah sampai di curug kami ambil gambar dan pulang. Curugnya bagus dan biasa aja. Karna bukan curug tujuan kita. Tapi NGOPPIIIIII NGAHAHAHAHHAHA



jadilah kita cari tempat untuk menggelar matras dan membuka kompor. Yang akhirnya, kami menemukan tempat di  atas batu. Tak lupa membawa mug favorit masing masing dan 'woshhhh' suara kompor gas portabel milik ejes menemani riuh derak aliran air terjun di siang itu. Setelah membuat kopi kami juga membuat mie instan untuk sarapan dan makan siang. 

Kopi dan mi instan ini dibuat oleh saya dan kedua teman saya ini sangat membantu dalam tidak mengerjakan apa apa ketika saya masak. Tapi tidak apa. Ejes dan erinda sibuk memotret alam sekitar dengan sangat fokus dan intenss tapi sampai hari ini tidak satupun dari foto mereka yang di upload.

Segelas kopi menemani lamunanku menuju angkasa di siang itu. Pohon pohon juga mulai bersenda gurau dengan angin.

Setelah lelah bercengkrama, kamipun cabut kembali kepada realita kehidupan.

Jumat, 09 Maret 2018

Minuman dari Kampung Sebelah

Hello I’m back!

Jadi ceritanya seperti yang kemarin kemarin, sedang jenuh menunggu hasil revisian TA. Walhasil kita jadi gabut mau ngapain dikosan. Sebenarnya banyak perjalanan senja yang dari kemarin dilaksanakan. Tapi bingung mau mulai darimana. Ok mulai dari kuliner saja. 

Lagi kuliner Semarang yang bikin saya tercengang (waw). Kuliner kali ini saya temukan di Banyumanik, Semarang. Lebih tepatnya di Semarang atas. Banyumanik sendiri menurut saya adalah tempat dengan berbagai macam kuliner yang bermacam-macam. Salah satunya kuliner kali ini, Wedang Kacang. Wedang dalam bahasa jawa berarti “minuman” dan kacang, ya kacang. 

Alasan ke tempat ini karena penasaran saja, saya diajak teman saya yang suka jajan sembarangan. Jadi Wedang Kacang ini disajikan di mangkok, tidak seperti bayangan saya yang wedang seharunya di sajikan di gelas. Apa boleh pikir, yang penting rasanya. Jadi ketika kuliner ini sudah disajikan di meja kami, bayangan saya tentang rasanya adalah tidak jauh-jauh dari ‘Wedang Ronde’ dan ‘Wedang Jahe’, mungkin rasa ala ala jawa yang penuh dengan gingger atau rempah khas jawa. Namun tidak, wedang yang sekarang lebih tepatnya saya sebut makanan ini disajikan menggunakan santan dan gula jawa, saya tidak tahu tepatnya apa saja bumbunya namun kacang, sudah pasti tokoh utamanya. Kacang rebus, jadi kacang tersebut lembut ketika dikunyah, bahkan untuk orang sakit gigi sekalipun. Saat ini Semarang sedang musim hujan yang begitu tinggi curahnya, jadi suhu kota ini menurun drastis ketika malam. Sehingga, rasa Wedang Kacang yang disajikan panas, sangat lezat di mulut dan perut. Porsi dari Wedang Kacang ini sendiri cukup besar, sehingga tak perlu lagi makan nasi sebagai tambahan makan. 

Jika kamu pengen ngerasain, kamu bisa ke Semarang, ke Banyumanik. Pertigaan pizza hut belok kiri aja. Kedainya setelah superindo di kiri jalan. Untuk lebih tepatnya cari aja di google. Haha

Terimakasih sudah membaca. 
dukung komik penulis di instagram @mukagedek
Semoga harimu menyenangkan!

Rabu, 05 Juli 2017

Bajak Laut






Dari Nu'man Bin Basyir r.a., Rosulullah bersabda, “perumpamaan persaudaraan kaum muslim dalam cinta dan kasih sayang di antara mereka adalaha seumpama satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit maka mengakibatkan deman seluruh tubuh demam dan tidak bisa tidur” (Hadist riwayat Muslim)

“Kau akan bertemu teman, laut sangat luas. Pergilah kesana dan temui teman temanmu!” - Jaguar D. Sauro 'One Piece'

anggap saja kopi malam ini sama seperti kopi 7 Mei beberapa tahun yang lalu. Dibawah lampu temaram warung kopi, kami berdebat meresmikan nama sebuah kelompok bajak laut. Nama sudah ditemukan dan beranggotakan 4 orang pada awalnya. Di minggu minggu berikutnya ku temui satu persatu orang yang berminat dan berpotensi ikut dalam anggota bajak laut tersebut. Sehingga kita semua sekitar berlima-belas. Dari koki, navigator, medis, si cantik, si horor, tukang kayu, dll, lengkap sudah anggota bajak laut ini. Berlayar ke beberapa lautan dan menaklukannya. Terkenal sudah bendera kami dan dikenal bajak laut yang lain. Kita juga berteman dengan bajak laut yang lain. Kecil memang bajak laut ini, tapi kamu lumayan disegani di lautan. Kami pernah berjanji untuk menggapai cita-cita bersama, dan saling menjaga satu sama lain.

Sampai suatu ketika kita di porak porandakan, oleh ombak yang memaksa kita untuk terpisah satu sama lain. Kita tak lagi satu kapal. Ada beberapa gelombang yang tidak mengjinkan kami untuk saling bertemu. Hingga tahun-tahun berlalu begitu cepat.

Kini kami saling bertemu. Mereka sudah memiliki kelompok bajak laut sendiri, berlayar di lautan masing masing. Kita bersalaman, sesama ketua kelompok bajak laut, bercerita dan tertawa-tawa. Namun kutukan itu masih ada. Kita harus menunggu beberapa tahun lagi untuk bisa bertemu selama satu malam, di warung kopi..


siapa saja mereka? tidak perlu disebutkan. karena mereka masih dalam buron. harga kepala mereka mahal. mahal bagiku. mereka diburu kenangan dan dicari rindu

Jumat, 30 Juni 2017

ABAIKANLAH KEADILAN




Laotan, sahabat Kakek Wisnusarman, menyamar sebagai penerbang agar bisa ikut diskusi tertutup para pilot yang menuntut keadilan. Supaya pantasa bicara seenaknya. Laotan tampil sebagai pilot muda. Hal itu cukup sulit dilakukan, kendati wajah kakek tetap boyish. Ia tetap harus menyingkirkan jenggotnya yang seputih kapas dan panjang, serta menyemir hitam rambutnya.
“Pilot asing di gaji tinggi, pilot bangsa sendiri digaji rendah. Hopo tumon?” Seorang pilot senior mengemukakan pendapatnya dengan gemetar.
“Begitu pensiun kita diusir dari rumah dinas. Benar – benar tidak sesuai dengan UUD, GBHN, dan P4,” seorang pilot senior lain menyambung.
Seorang pilot muda maju ke depan. “Kita tuntut imbalan sama untuk tugas dan tanggungjawab yang sama!” Pilot muda itu berteriak, sambil mengacungkan tinju. “Tuntutan kita keadilan! Sederhana bukan? Lantas kenapa begitu sulit?
Seorang pilot muda tampil, Laotan. “Hmmmm,” dengusnya mendengung. “Kita sudah banyak mengeluh, tapi terlalu sedikit jalan keluar.”
“Jalan keluar bagaimana maksudmu?” tukas pilot muda terdahulu. “Mencari jalan keluar itu tugas pemimpin, bukan kita. Kita sudah banyak berbuat. Masih kurang aksi corat – coret? Apa lagi, kita kan sudah ke DPR?”
Betul,” jawab Laotan, pura – pura batuk. “Maksud saya, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?”
semua yang hadir tertegun mendengarkan kata – kata itu. Betul juga, pikir mereka. Apa gerangan yang bisa dilakukan setelah menuntut dan menuntut? Akibatnya semua pilot muda menoleh kearah pilot tua.
“Hanya bisa menunggu, barangkali?” ujar seorang pilot tua akhirnya.
“Menunggu sih boleh saja,” jawab seorang pilot tua lain. “Masalahnya, ketidakadilan yang sama itu terus berlangsung. Terus bertambah parah!”
“Kalau begitu kita tuntut lagi,” teriak seorang pilot muda. “Kita menuntut tak habis – habisnya, kalau perlu dengan teknik paling baru. Kita bisa berguru pada aktivis mahaiswa!”
Hadirin membersihkan kerongkongan dengan serentak, lalu terdiam.
Dalam keheningan itu, Laotan menggeser kursinya sehingga terdengar bunyi berdenyit menusuk telinga. Akibatnya semua menoleh kearahnya.
“Kamu ada usul?” tanya mereka.
“Ah, tidak. . .” jawabnya pura – pura tersipu. “Nanti ditertawakan. . .”
“Ayolah,” desak rekan – rekannya yang muda. “Kita kan demokratis. Apalagi, orang semuda kita, ditertawakan kan tidak apa – apa.”
“Yah kalau begitu, baiklah. . .” Semua peserta siap mendegar.
Usul saya, kita diam saja!” katanya sambil berbisik. “kita diam tanpa menuntut, tanpa mengeluh. Diam tanpa berbuat apa pun. Saya yakin semua soal akan selesai dengan sendirinya.”
sekonyong – konyong ruangan itu penuh tawa terbahak – bahak. Semua terguncang – guncang, kecuali pilot muda. Yang ini berdiri, lalu menjambak kerah baju Laotan.
“Kamu masih berani bermain – main, hah?” bentaknya geram.
“Uh, jangan cekik leherku. Kamu kira saya main – main apa?”
“Kalau tidak, ayo, jelaskan usulmu!” bentak pilot muda itu lagi.
“Sabar sedikit, kenapa sih?” Laotan protes. “Coba dengarkan.”
“Sabar sedikit, sabar sedikit. Bagaimana kamu masih bisa sabar kalau dibayar limabelas ribu sebulan saban kali kamu tak bisa terbang?”
“Dengarkanlah,” pinta Laotan. “Kalau kita diam tak berbuat apa – apa, maka kenyataan sekarang ini akan punya kesempatan menghadapi soal- soal sendiri. . .”
“Maksudmu, persoalan bisa selesai sendiri tanpa seorangpun berbuat apa – apa?”
“Bukan begitu,” sahut Laotan tenang. “Begini. Kalau kita digaji kurang, pilot kan terpaksa cari tambahan. Karena cari tambahan, kan bisa gagal terbang. Kalau gagal terbang, kan dibayar limabelas ribu sebulan. Kalau dibayar limabelas ribu sebulan, kan makin perlu cari tambahan. Karena lelah mencari tambahan, pilot kan bisa mengatuk. Kalau mengantuk, kan bisa. . . crash!” Sambil berkata begitu laotan menerjunkan tangannya seperti pesawat jatuh. “Demikian juga halnya kalau pensiun diusir dari rumah dinas. Karena memikirkan diusir kan pilot bisa bingung. Karena bingung, kan bisa crash!”
“Dan itu berarti, kamu mati! Habis perkara!” tukas pilot muda yang satu dengan ketus.
“Mungkin. Artinya bisa juga tidak mati. Orang lenggang kangkung di jalan pun bisa mati. Orang tidur pulas pun mati.”
“Benar – benar usul gila!” pilot muda yang satu lagi itu bukan main berang. “Mending usulku kemarin. Lebih baik kita mendirikan partai. Satu partai yang menjamin kepentingan pilot. Partai Pilot berdasarkan keadilan. Dengan itu, kita tak perlu lagi ke DPR. Di sana akan duduk wakil kita sendiri. Namun, usul saya ditolak.”
“Bukannya ditolak,” sahut seorang pilot tua. “Cuma kan ada undang – undang, tak boleh ada partai baru.”
Sejak semula, keadilan melulu,” Laotan mengejek. “Tuntutan keadilan muncul setelah kepentingan terganggu, bukan sebaliknya. Lantas, apa yang muncul setelah tuntutan keadilan? Sesungguhanya mengabaikan tuntutan keadilan membuat kehidupan tentram.”
“Benar ngaco – belo!” hardik si pilot muda.
“Sama sekali tidak,” tangkis Laotan. “Dengarkan. Kalau yang berguna digunakan, kamu sebut apa itu? Keadilan, bukan?”
“Yah betul, itulah keadilan!” sahut pilot muda yang lain itu.
“Kalau yang tak berguna diabaikan, kamu sebut apa itu?”
“Itu juga keadilan.”
“kalau begitu,” kata Laotan tenang. “Yang lebih unggul dari keadilan adalah gunanya yang tidak berguna.”
“Ngaco – belo!” hardik pilot muda lagi. “Di mana letak keunggulan dari gunanya yang tidak berguna?”
“Bukankah pohon yang berguna terancam ditebang secepatnya? Bukankah pohon yang tak berguna dibiarkan hidup sepanjang masa?”
“Ngaco – belo!”
“Sama sekali tidak!” lagi – lagi Laotan menangkis. “Pohon yang tak berguna bebas dari tuntutan keadilan. Itulah gunanya yang tak berguna. Lelaki yang pincang tak memerlukan sepatu, tetapi juga bebas dari wajib militer. Itulah gunanya yang tak berguna.”
“Apa hubungan semua omong – kosongmu dengan derita pilot?” gugat si pilot muda.
“Hubungannya,” sahut Laotan. “Usul saya untuk tidak berbuat apa – apa. Coba. Digaji limabelas ribu sebulan berarti kita tak berguna jadi pilot. Diusir dari rumah dinas berarti kita tak berguna jadi pilot. Nah, gunanya kita tak berguna jadi pilot, yah, berhenti jadi pilot. Gampang, bukan?”
“Lantas, siapa yang menerbangkan pesawat kalau begitu?”
“Siapa yang digunakan saja!”
“Lalu siapa yang memperjuangkan keadilan?” si pilot muda makin berang.
Jawaban Laotan tidak terdengar, tapi ia membersihkan semir rambutnya, lalu tampil seperti dirinya yang asli, seorang tua. Secepatnya ia menghilang dari pertemuan itu.
“Bukankah hilangnya kewajaran disusul gencarnya masalah keadilan? Bukankah meningkatnya kepintaran menimbulkan kemunafikan? Bukankah kehancuran keluarga menimbulkan masalah ketaatan anak – anak? Bukankah kacaunya pemerintah menimbulkan masalah kesetiaan warga? Kalau kalian paham semua itu, bukankah masalah pilot gampang sebenarnya?”
Di pintu keluar Laotan bertemu dengan Wisnusarman.
“Saya mencarimu ke mana – mana. Darimana saja kamu bocah tua?” tanya Wisnusarman.
Sebagai sahabat kental, Wisnusarman mengerti apa yang terjadi dengan Laotan, kendati tanpa penjelasan.

16 November 1979
Parakitri T. Simbolon
CUCU WISNUSARMAN
Penerbit NALAR, Jakarta, April 2005

Senin, 29 Mei 2017

gunung


Dear gunung yang kurindukan,

Hari ini tak seperti biasanya. Semarang malam sangat berangin. Dingin dengan segala kesunyianmu. Mengingatkanku pada sebuah tempat. Gunung. Hawa dan hembusan angin ini membuatku memejamkan mata menuju angan yang lain. Suasana perbukitan dengan aroma malammu yang khas. Bau rumput dan dedaunan yang segar, tak tertinggal embun dan kabut memenuhi pandangan mata. Hampir setiap malam begitu suasanamu. Mungkin ditambah gurauan sahabat dan kenalan di atas dataran tinggi ini. Aku kemudian ingat segala kenangan tentang malam damai beserta segala memori tentang alam. Alam yang dulu sering muncul dalam bedge organisasi saat itu.

Di lewat dini hari ini aku duduk di teras lantai 2 kosan ku di Semarang. Tempat yang jauh dari asalku. Malam ini aku sedang sangat merindukan gunung. Aku rindu tempatmu, aku rindu suasamu, aku rindu persahabatanmu, aku rindu lelah letih menujumu, aku rindu matahari terbitmu, aku rindu sampahmu, aku rindu masakanmu, aku rindu rerumputanmu, aku rindu hutanmu, aku rindu tanah tandusmu, aku rindu semua tentang mu. Aku selalu kagum terhadapmu. Kagum bagaimana cara mu berdiri menghadap langit, melawan terpaan angin, membisu di ketinggian.

Namun berikutnya, aku sedikit membencimu. Dulu kamu hanya milikku. Sekarang, hampir semua orang mengagumimu. Awalnya aku senang karena mereka sadar tentang kemegahanmu. Kemudian banyak orang mulai mendatangimu. Mereka memujamu dan mengambil fotomu. Menujumu tanpa mencintaimu. Mereka berbondong – bondong datang kepadamu tanpa tau siapa kamu. Yang mereka pedulikan hanyalah mereka berhasil menaklukanmu. Aku tidak suka jika banyak yang menyukaimu. Aku benci. Egois memang. Tapi dalam hati aku benar – benar tidak suka jika orang lain menyukaimu selain aku. Aku tidak jatuh cinta padamu gunung, aku hanya mengagumi mu. Namun, sekarang kamu dengan mudah dimiliki orang. Aku merasa tidak memilikimu lagi. Aku tidak tau kemu melupakanku atau tidak, aku hanya tau kamu sudah tidak seperti dulu. Sehingga aku memutuskan untuk melupakanmu.

Sudah lama aku tidak bertemu denganmu. Bahkan hampir melupakan kemegahanmu. Malam ini berbeda. Tiba tiba hembusan angin dingin mu membelaiku ketika aku pulang dari warung kopi tadi. Sehingga malam ini kunikmati dengan hanya terduduk di balkon kos ku. Aku sedang memanggilmu dalam imajinasiku. Tak perlu tersampaikan atau tidak, aku hanya merindumu. Bukan aku ingin benar benar melupakanmu, aku hanya tidak suka mereka memperlakukanmu seenaknya. Mereka tidak berkenalan saat mereka menghampirimu. Gunung, aku kecewa pada mereka yang datang tanpa memberi apapun kepadamu. Aku mengkhawatirkanmu. Aku akan lebih sering marah jika berbicara tentang dirimu yang sedang ramai jadi pusat perhatian. Aku memarahi mereka yang denga mudah pergi darimu tanpa pamit. Aku mengenalmu gunung, bahkan terlalu akrab. Maka dari itu jika salah satu dari mereka tidak menghormatimu, aku akan memberi tahunya dengan nada tinggi. Banyak yang bilang aku sok tau tentangmu. Ku acuhkan mereka karena ini demi kebaikanmu. Tak ku hiraukan perkataan mereka tentang jangan sok ngatur ketika mendatangimu. Kamu terlalu berharga buatku. Karena kamu bagian dari metamorfosa hidup yang membentuk diriku menjadi seperti ini. Terimakasih gunung, atas segala hal yang telah kau ajarkan padaku.



Pengagummu

afif

Rabu, 26 April 2017

Matahari Terbit di Pantai Sigandu | Jalan - Jalan Senja




kali ini rada panjang posnya. Yauda baca aja sih. Uda nyampe sini juga.




Hari ini adalah hari yang membuat saya bimbang. Pasalnya ada pertemuan dan touring vespa ke Batang Jawa Tengah tepatnya di Pantai Sigandu namun hari selasa saya harus maju untuk presentasi di sebuah mata kuliah. Sebelumnya saya belum pernah ke kota yang berdekatan dengan pekalongan ini. Namun setelah bertanya kesana kemari, rata rata jawaban yang saya dapat adalah “batang deket kok dari Semarang”. Oke, saya siap berangkat ke kota tersebut. Hari keberangkatan Sabtu siang yang seharusnya Sabtu pagi itu terkendala karena malam harinya saya harus menemani adek – adek tingkat ikut acara kartini di kampus dan mengajak nongkrong setelahny dan kesiangan. Namun keberangkatan saya yang terlambat itu malah mempermudah kendala saya ke Batang karena bertemu dengan seseorang yang tidak terduga.

Sabtu jam 2 siang saya bersiap dan memanasi kendaraan vespa saya yang bernama vebi. Disamping karena warnanya biru, dia juga berbentuk vespa. Makanya saya singkat menjadi vebi. Vespa tua bermesin PX 150cc tahun 1974 akan menemani perjalanan saya menuju batang tempat ulangtahun klub vespa batang. Seharusnya saya tidak berdua saja kesana melainkan bertiga. Namun karena teman saya yang dari jambi itu mengurungkan niatnya untuk ikut saya ke Batang h-11 jam, karena dia mau pergi ke Gunung Sumbing untuk menuliskan salam pada sebuah kertas kepada dia yang tersayang. Oke fine. Jadi siang itu saya hanya berdua dengan vebi mengarungi Semarang – Batang.

Siang i tu sangat terik. Saya tipe orang yang suka jalan – jalan dengan kendaraan umum. Kereta contohnya. Tapi tidak suka naik bis kecuali terpaksa, bau. Tapi saya juga suka jalan – jalan naik vespa. Karena nyampe nya lama. Jadi seru saja. Namun ada yang berbeda dengan perjalanan Semarang – Batang. Sepanjang perjalanan sangat banyak sekali jalanan jelek seperti jalan berlubang dan tambalan aspal yang tidak rata. Lalu ada lagi jalanan keluar kota semarang menuju kendal, disitu jalannya menurut saya paling parah. Karena banyak sekali spot aspal yang tidak rata sehingga jalannya sangat bergeronjal. Bukannya apa, Vespa adalah kendaraan dalam kota. Dan dia tidak bagus kalo di jalanan bergeronjal karena struktur suspensi vespa itu sendiri. Masih menggunakan teknologi jadul dan tidak bisa menerima hantaman yang terlalu keras. Itu lah yang menghambat perjalanan saya menuju Batang yang menurut saya jalannya memang “jelek” bagi vespa. Karena itu juga charger hp yang saya taruh di tas yang saya ikat di 'back rack' vespa terjatuh. Lalu juga sempat mogok karena terkena guncangan terus dan mengakibatkan bensin yang tidak lancar menuju mesin. Sedih kan.

Keluar dari kota Semarang menuju Kendal disalip oleh beberapa vespa yang membunyikan klakson ketika bertemu dengan pengendara vespa yang lain atau disebut scooterist. Ada seorang pria berjaket abu – abu menyalip saya dengan kecepatan tinggi dan membunyikan klakson untuk menyapa saya. Saya balas dengan mengacungkan jempol sebagai tanda lain jika vespa kita tidak ada klaksonnya. Namun ada yang aneh, di persimpangan Kendal lingkar dan kota, dia berhenti. Mungkin dia bingung. Sembari menyalip saya teriak pada pria tersebut untuk belok ke arah kanan karena lampu persimpangan yang sudah berwarna hijau ketika saya melintas. Setelah itu dia mulai mengikuti di belakang saya. Dia juga sempat menyampaikan untuk membuntuti saya sampai tempat tujuan. Saya iyakan padahal saya juga belum pernah ke lokasi jambore kali ini. Itung – itung biar ada temannya. Sampai persimpangan berikutnya dia bertanya saya dari klub mana. Saya jawab kalau tidak dari klub mana mana. Karena independen. Lalu dia juga bertanaya “kenal dengan Sanni nggak?”, lalu saya menggeleng karena saya tidak tahu itu siapa. Lalu di jalan lingkar Kendal vebi sempat mogok untuk ganti busi. Akhirnya saya menepi. Dan pria tersebut juga ikut menepi. Saya bilang pada dia
“om kalo mau duluan duluan aja”,
“nggak, aku nggk apal jalan” balas dia.
“emang dari mana om” sahutku lagi sambil bongkar busi vebi.
“dari deket sini kok, mranggen(kalo ga salah)”
“kok ga apal om, kan deket”
“aku pernah kecelakaan dan amnesia. Ini mata kanan juga rada burem”
“lah ngapain ikut touring om”
“aku lagi cari wanita yang namanya Sanni, yang aku inget jelas dulu sebelum kecelakaan aku pernah deket sama dia. Tapi setelah itu aku lupa dia dari mana, tapi dia dari Semarang”
“trus?”
“ya karena suka juga sama vespa, dia juga suka sama vespa, dulu aku anak CB. Tp karena di klub banyak konflik saya pindah ke vespa. Cuma di vespa aku nemu kedamaian. Aku juga suka dangdutnya roma irama, karena isinya semua tentang kehidupan dan kedamaian. Tapi dangdut sekarang isinya rusak semua”
saya cuma bisa nyengir sambil pasang busi yang baru.
“musik reggae itu isinya tentang perdamaian semua. Aku ga apal semua lagu lagunya. Tapi semua lagunya penuh makna. Dan dibikin tenanan (serius)”
setelah vebi selesai dibenerin kami mulai melanjutkan perjalanan ke Batang.

Di tengah perjalana di alasroban, vebi mogok lagi. Saya benerin lagi semaksimal mungkin, namun tetep gabisa nyala. Dengan wajah bingung saya terduduk di aspal. Lalu pria yang ikut saya yang kemudian saya tahu namanya Basir itu menawarkan “uda nyerah belom? Kalo uda sini”. Saya cuma menyodorkan obeng yang saya pakai untuk otak atik vebi. Lalu Om Basir mulai mengotak – atik vebi dengan cekatan dan bisa hidup beberapa menit kemudian. Di sela tawanya dia mengaku kalau dia sempat kerja di bengkel sebelum kecelakaan tersebut. “kenapa ga nawarin dari tadi” batinku kesal tapi juga bersyukur karena saya punya orang bengkel dalam perjalanan kali ini. Di mogok berikutnya pun juga dia yang benerin vebi.
“kalo mogok lagi di tinggal aja” kata dia ngomel.
“jangan om, aku sayang sama vebi”
“sayang ko ga dirawat. Vespa itu bukan agama. Kalo kamu sayang sama agama, kamu akan dirawat sama agama itu, kalo vespa ga dirawat ya dia bakal nyusahin koe” kata dia yang tahu betul dengan kondisi vebi yang lumayan parah karena dia orang bengkel. Saya cuma terdiam bukan karena abis diomelin Om Basir, tapi kerana merasa bersalah dengan vebi. Maaf ya vebi.

Setelah perjalan jauh dan mogok yang berulang kali, akhirnya kita sampai di Pantai Sigandu Batang jam 7 malam. Lumayan lama karena perjalanan normal itu 2,5 jam. Ya karena faktor kendaraan juga ya. Istirahat sebentar di lokasi karena badan mulai pegel. Lalu saya di telfon oleh Gugus Sulemane karena dia tinggal di Batang dan kami sempat janjian bertemu sebelumnya. Karena Om Basir tadi cuma numpang perjalan ya akhirnya kami berpisah malam itu juga. Sekitar jam setengah 8 saya bertemu dengan Sulem di gerbang pantai Sigandu. Lalu kita langsung beranjak menuju Istana kediaman Sulemane. Sampai disana dia menyuguhkan buah buahan dari kebun pribadi dan mi goreng instan yang sangat lezat karena waktu itu saya benar – benar lapar. Tapi nongkrong disana tidak bisa lama karena Gugus sendiri ada pertemua Kopdar Gabungan Megapro Batang di malam yang sama. Akhirnya jam 9 malam saya kembali ke lokasi vespa tersebut.



Ada beberapa penampilan panggung yang menyanyikan alunan lagu reggae. Disini entah mengapa saya hampir menangis. Tidak tahu juga kenapa, mungkin karena lagu – lagu yang sedang tepat dengan kondisi diri saya. Ada beberapa lagu yang saya nyanyikan dengan suara gemetar. Dari Serenada nya Steven Coconut dan Tertanam dari Tony Q. lagu – lagu itu mengingatkan dengan teman – teman dan kampung halaman. Lalu sempat terjadi bentrok di tengah penonton. Mungkin terjadi senggolan antar penonton. Tapi perlu di garis bawahi, pengendara vespa dan pecinta musik reggae tidak akan pernah bentrok karena semua cinta damai. Tapi malam itu ada yang bentrok, dan semua yang disana yakin kalau itu bukan dari anak vespa. Jadi penonton yang bermasalah tadi di keluarkan dari area konser. Setelah bentrok tadi polisi naik keatas panggung dan mengancam akan membubarkan jika ada yang bentrok lagi. Akhirnya kami semua menyanyikan lagu Indonesia Raya pasca bentrok tadi dan menyalakan korek masing – masing. 

 
Entahlah. Malam itu saya sangat senang berada disana. Bergabung bersama kaum kaum kusam ini. Di komunitas vespa semuanya sama, tidak ada perbedaan baru dengan vespa lama. Tidak ada perbedaan vespa bagus dengan jelek. Tidak ada perbedaan vespa bersih dan vespa gembel. Semuanya sama. Ketika ada kesusahan akan saling bantu satu sama lain. Memang mereka kadang berpenampilan jorok. Bahkan ada juga yang ngemis di pom untuk dapat seliter bensin. Saat ada acara vespa, mudah sekali ditemui orang mabuk dengan berbagai miras. Ada istilah namanya 'amunisi' atau 'arak minum sini'. Mereka juga berjualan di depan polisi dan membiarkan begitu saja. Di kerumunan kaum kusam ini saya membatin. Saya lebih baik bersama mereka orang – orang yang tidak saya kenal, tidak memikirkan apapun. Disini tidak peduli partai politik atau agama. Kita semua membawa masalah masing – masing,tapi melupakan sejenak ketika disini, di acara vespa. Egois memang jika apatis tidak memikirkan negara, tapi toh apapun yang terjadi dengan nengara ini tidak terlalu pengaruh terhadap pengendara vespa. Tidak ada IPK yang harus ditinggikan. Tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Tidak ada pertemanan yang menjengkelkan. Tidak ada pemerintah yang menggugurkan impian. Semua hanya tentang persaudaraan dan perdamaian. Kita disini hanya mencari ketenangan. Kita cuma minoritas dalam mayoritas. Tapi minoritas yang menyenangkan. Bukan karena haus bersenang – senang. Hanya menikmati yang tidak dinikmati.

Ketika konser dan beberapa band sudah selesai, panggung mulai meredup. Para penonton juga sudah kembali dan mencari tempat tidur masing – masing. Saya mulai memasang 'hammock' atau tempat tidur gantung diantara dua pohon. Cepat terlelap karena memang badan sudah sangat lelah.

Pagi terbangun. Yang membuat saya terkejut adalah hammock yang saya pasang itu langsung menuju cakrawala pantai. Tempat matahari mengintip di fajar pagi. Belum beranjak dari hammock, saya menikmati detik – detik matahari mulai meninggi. Saya hanya bersyukur tentang semua yang terjadi hari itu. Disana ada vespa, pasir pantai, dan matahari terbit. Ok im done. Saya sudah puas dengan liburan kali ini. 

Ketika waktu menunjukan pukul 7 saya segera berkemas karena hari selasa ada presentasi. Perjalanan pulang segera dan kembali ke realita kehidupan. Saya punya tanggungan disana..

Sabtu, 25 Februari 2017

Akhirnya Dia Datang

sumber gambar : http://blog.act.id/wp-content/uploads/2015/08/berkah-hujan-kemarau.jpg



Hujan adalah hal yang tidak mereka sukai. Mereka menganggap hujan akan menghambat aktifitas dan perkerjaan mereka. Padahal hujan turun dengan bahagia, tapi tak sedikit yang mengilhaminya duka. Hujan tidak sendirian, dia bersama awan hitam dan kilatan petir. Sesekali guntur ikut menyorakkan suasana. Hujan dianggap pengacau disegala kegiatan, karena hujan menyebabkan banyak hal basah. Menyebabkan para tamu undangan tidak dapat menghadiri acara tempat mereka diundang, membuat para partisipan car free day tidak dapat turun ke jalan, menghasilkan genangan air dimana – mana yang membuat pasar semakin becek. Membuat kekacauan dari banjir hingga tanah longsor. Begitu kata mereka yang tidak menyukai hujan. Berbeda dengan para pendamba hujan yang sangat bahagia ketika hujan turun. Andai aku bisa menari, mungkin aku sudah berdansa dibawah hujan. Namun apa daya, yang kubisa lakukan hanya berdiri dibawah hujan dan hanya tersenyum, memejamkan mata, dan kutadahkan wajahku keangkasa membiarkan rintiknya berjatuhan membasahinya. Geli rasanya ketika mereka berjatuhan dengan begitu lebatnya di semua anggota tubuhku. Namun karena aku mengaguminya, kubiarkan dia menjamah seluruh bagian tubuhku tanpa terkecuali. Kulihat butiran air itu datang dengan menyengaja, menyengaja terhadap bumi yang lama tak basah. Berjuta ton air itu melewati akar – akarku dan dengan senang hati aku mengambil dan menyerap semampuku dan dengan floem yang tak henti bekerja keras mengirim ke penjuru batang tubuh. Kini tanah sekitarku basah. Atau yang kalian sering bilang becek, berlumpur, dan menggenang. Aku suka dengan kondisi itu, membuat tanah lebih gembur dan akar – akarku melesat dengan kokoh di bawah lapisan tanah.

 Hujan yang kalian sesali adalah hujan yang kami sukai, diimpikan selama berhari – hari. Tanpanya kami tak akan mampu bertahan di bumi yang semakin panas dengan sendirinya. Bukan sendirinya, melainkan karna kalian yang mulai malas mejaganya. Hujan ini menjagaku dari kekeringan dan kehausan. Bagaimana tidak, kalian yang semakin acuh dengan keberadaanku. Jangankan menyiram, pedulipun tidak. Hingga Tuhan sendiri yang menyiramiku secara langsung. Hujan itulah bentuk pertolonganNya padaku. Hujan yang kalian sesali menghasilkan bibit – bibit baru untuk kelangsungan hidupku, bukan hanya aku, tapi tentu juga kalian yang membutuhkanku mengolah Karbon Dioksida dan Karbon Monoksida sebagai Oksigen yang kalian hirup. Ketahuilah jika semua itu terjadi atas ijinNya. Maka jangan terlalu murka dengan oksigen yang kalian hirup secara cuma – Cuma.
 
Terimakasih hujan yang mampu menyambung kembali rasa lapar yang mendera berhari – hari dan terimakasih banyak Sang Penurun Hujan karena tanpaMu ini tak akan terjadi..